Transformasi Strategis Indonesia dalam Mengatasi Ketergantungan Impor LPG melalui Pemanfaatan Metana Domestik

Sekitar 90% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Dari total konsumsi sekitar 8,5 juta ton per tahun, produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai sekitar 1,3 juta ton. Akibatnya, sebagian besar kebutuhan LPG masih harus dipenuhi dari luar negeri, yang berdampak pada tingginya ketergantungan impor dan beban devisa negara.

Situasi ini bukan rahasia. Pemerintah sudah lama mencari pengganti LPG yang bisa diproduksi dari sumber daya domestik. Salah satu jalur yang paling sering disebut adalah DME (Dimethyl Ether) dari gasifikasi batu bara. Namun ada pendekatan lain yang kini sedang dikembangkan secara aktif oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama YEC dan Atomis: teknologi penyimpanan gas metana bertekanan rendah berbasis material Metal Organic Framework (MOF).

Mengapa Metana Bisa Menjadi Pengganti LPG?

Banyak yang bertanya: jika Indonesia punya cadangan gas alam, mengapa LPG masih harus diimpor? Jawabannya terletak pada perbedaan komposisi kimia yang sering luput dari perhatian.

LPG terdiri dari propana (C3) dan butana (C4), yaitu senyawa yang tidak mendominasi cadangan gas alam Indonesia. Cadangan gas bumi kita justru kaya akan metana (C1) dan etana (C2). Artinya, masalahnya bukan kekurangan gas, melainkan ketidakcocokan antara jenis gas yang tersedia secara lokal dengan jenis gas yang digunakan di dapur rumah tangga.

Di sinilah teknologi penyimpanan metana menjadi relevan. Jika metana bisa disimpan dan didistribusikan secara efisien ke skala rumah tangga tanpa membutuhkan infrastruktur pipa yang mahal, maka ketergantungan pada LPG impor bisa dikurangi secara signifikan. Lebih dari itu, Indonesia memiliki sumber metana yang tidak hanya berasal dari gas alam, tetapi juga dari limbah industri sawit dan sampah perkotaan, yang keduanya tergolong sumber energi terbarukan.

Dua Jalur Pengganti LPG yang Sedang Dikembangkan

Indonesia saat ini mengenal dua pendekatan utama dalam upaya mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Keduanya berbeda dari sisi bahan baku, teknologi, dan kesiapan implementasi.

DME dari batu bara adalah program hilirisasi yang sudah lama didorong pemerintah. Secara teknis, DME memiliki sifat fisika dan kimia yang mirip dengan LPG sehingga bisa menggunakan infrastruktur tabung yang sudah ada. Namun hingga kini, proyek ini masih menghadapi tantangan serius. Harga produksi DME diperkirakan berada di kisaran US$911 hingga US$987 per ton, jauh di atas rata-rata harga impor LPG yang sekitar US$435 per ton. Subsidi yang dibutuhkan pun diperkirakan lebih besar dari subsidi LPG saat ini. Investor strategis belum ditemukan, dan timeline realisasi terus bergeser.

Penyimpanan metana berbasis MOF adalah pendekatan yang berbeda secara fundamental. Alih-alih mengubah bahan baku menjadi senyawa baru seperti DME, teknologi ini menyimpan metana apa adanya menggunakan material khusus yang mampu menyerap molekul gas secara efisien. Hasilnya: gas bisa disimpan pada tekanan yang jauh lebih rendah dari sistem kompresi konvensional, dalam wadah yang lebih kompak, dan bisa didistribusikan tanpa jaringan pipa.

ParameterDME dari Batu BaraPenyimpanan Metana Berbasis MOF
Bahan baku utamaBatu bara kalori rendahGas alam, Biogas (dari POME, sampah perkotaan, dan lainnya)
Ketersediaan lokalTersedia, tapi ekstraktifMelimpah dan terbarukan
Infrastruktur distribusiTabung existingKontainer baru, tanpa pipa
Status pengembanganPra-FS, investor belum finalTahap uji coba POC
Tantangan utamaHarga produksi 2× LPG imporStandar SNI belum tersedia

Baca Juga: Apa Itu Metal-Organic Framework: Panduan Sederhana untuk Pemula

Inovasi Kolaboratif: Membangun Rantai Pasok Domestik untuk Energi Berkelanjutan

Di sinilah kolaborasi yang paling menarik untuk diikuti perkembangannya. Sejak pertemuan pertama di InaRI Expo 2022 dan dilanjutkan dengan penandatanganan MoU pada Oktober 2023, tiga institusi menjalankan pengembangan bersama (co-development): Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Yachiyo Engineering Co., Ltd. (YEC), dan Atomis Inc.

Teknologi yang Dikembangkan

Inti dari kolaborasi ini adalah pengembangan material penyerap gas (adsorbent) berbasis Metal Organic Framework (MOF) untuk sistem penyimpanan metana bertekanan rendah. Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menjelaskan keunggulan sistem ini secara langsung di hadapan publik pada InaRI Expo 2025.

Tekanan gasnya hampir sama dengan LPG, tetapi volumenya bisa mencapai satu setengah kali lipat. Dengan tambahan material MOF, gas metana dapat disimpan dalam wadah yang lebih kecil sehingga lebih mudah didistribusikan,” ungkapnya (Sumber:www.brin.go.id/ ).

Teknologi inilah yang menjadi fondasi dari CubiTan, smart gas container berbasis MOF yang dirancang untuk penyimpanan dan distribusi metana skala rumah tangga maupun komersial. Bentuk tabung yang lebih pendek dibanding tabung gas konvensional juga menjadi nilai tambah dari sisi logistik.

Hajime Watanabe dari Yachiyo Engineering menyatakan bahwa kerja sama ini ditujukan untuk mendukung transisi energi bersih bagi rumah tangga di Indonesia. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada LPG 3 kilogram impor masih membebani anggaran subsidi, padahal Indonesia memiliki potensi besar dari gas alam, biogas, dan metana. Melalui teknologi penyimpanan berbasis kontainer, kapasitas penyimpanan gas bahkan dapat mencapai tiga kali lebih besar dibandingkan sistem konvensional.

Daisuke Asari, CEO Atomis Inc., menjelaskan bahwa material MOF terus dikembangkan dan disesuaikan dengan karakteristik gas metana yang digunakan di Indonesia. Menurutnya, proses penyesuaian ini diperlukan agar mekanisme adsorpsi dan desorpsi dapat bekerja secara optimal sebelum teknologi tersebut diuji coba di pasar. Atomis sendiri merupakan startup yang lahir dari Kyoto University dan berkaitan dengan ekosistem riset Prof. Susumu Kitagawa, salah satu dari tiga ilmuwan peraih Nobel Kimia 2025 atas pengembangan Metal Organic Framework.

Baca Juga: CubiTan® Mulai Menjalani Uji Coba POC di Indonesia

Sumber Metana Lokal: Indonesia Tidak Kekurangan Bahan Baku

Salah satu keunggulan pendekatan ini dibanding DME adalah keragaman sumber bahan bakunya. Muhammad Abdul Kholiq, Direktur Manajemen Kekayaan Intelektual BRIN sekaligus Ketua Biogas Indonesia, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber metana yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Dua sumber yang paling potensial adalah limbah industri kelapa sawit, khususnya Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Empty Fruit Bunch (EFB), serta sampah perkotaan. Jakarta saja menghasilkan 7.500 ton sampah per hari, yang sebagian besar berpotensi menghasilkan metana melalui proses penguraian anaerob.

Berbeda dengan batu bara yang merupakan komoditas ekstraktif, metana dari biogas adalah sumber terbarukan yang secara alami mengikuti sebaran industri sawit dan kawasan perkotaan di seluruh Indonesia. Muhammad Abdul Kholiq dari BRIN menegaskan bahwa limbah sawit berupa Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Empty Fruit Bunch (EFB), serta sampah perkotaan seperti di Jakarta yang menghasilkan 7.500 ton per hari, merupakan sumber metana yang sangat potensial dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Upaya mencari pengganti LPG yang benar-benar bisa diimplementasikan di Indonesia bukan hanya soal memilih teknologi yang paling canggih, tetapi juga soal memilih jalur yang paling realistis secara ekonomi, regulasi, dan ketersediaan sumber daya. Kolaborasi BRIN bersama YEC dan Atomis menawarkan pendekatan yang bertumpu pada kekuatan lokal: metana dari sumber terbarukan, distribusi tanpa pipa, dan sistem monitoring digital yang mengurangi risiko sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.

Perjalanan menuju komersialisasi masih panjang, terutama dari sisi standardisasi. Namun fondasi risetnya sudah diletakkan, dan arahnya jelas.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana teknologi smart gas container bekerja dalam ekosistem distribusi gas metana ini, pelajari selengkapnya tentang CubiTan di sini.

Referensi:

Berita
Berita Terkini
Pemenang Nobel Prof. Susumu Kitagawa Perkuat Diplomasi Sains Jepang-Indonesia
Pemenang Nobel Prof. Susumu Kitagawa Perkuat…
CubiTan® dan Teknologi MOF Menarik Perhatian Besar di Simposium Regional FAO 2026 India
CubiTan® dan Teknologi MOF Menarik Perhatian…
Proyek CubiTan® di Indonesia Ditayangkan dalam Program “NEWSROOM TOKYO” di NHK World Japan
Proyek CubiTan® di Indonesia Ditayangkan dalam…
Apa Itu Metal-Organic Framework: Panduan Sederhana untuk Pemula
Apa Itu Metal-Organic Framework: Panduan Sederhana…
Dari Penemuan Peraih Nobel hingga Teknologi MOF untuk Energi Berkelanjutan
Dari Penemuan Peraih Nobel hingga Teknologi…
Logo Cubitan